Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Biaya pendidikan di UI harus tetap terjangkau

Written By kecamatan mlarak on Kamis, 10 Mei 2012 | 19.03

Jakarta - Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia terpilih KH Said Aqil Siroj berharap UI tetap menjadi perguruan tinggi yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

"UI adalah universitas terbesar di Indonesia yang harus menjadi tempat belajar anak-anak cerdas dari seluruh lapisan masyarakat," kata Said Aqil di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut Said Aqil mengatakan, UI memang harus dikelola secara modern dan profesional dengan pelayanan yang baik, namun biaya perkuliahannya harus tetap terjangkau, sehingga tidak hanya menjadi tempat belajar kalangan berduit.

"UI tetap harus dikelola secara profesional dengan biaya perkuliahan yang terjangkau, namun tak menjadikannya tertinggal dalam pelayanan dan riset pengembangan teknologi," ujar alumni Uniiversitas Ummul Qura, Mekkah, Arab Saudi, itu.

Said Aqil terpilih sebagai Ketua MWA UI melalui proses pemungutan suara di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (9/5) malam, mengalahkan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla dengan selisih satu suara.

Dalam pemilihan yang juga dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Said Aqil berhasil mendapatkan 9 dari 21 suara yang diperebutkan, sementara Jusuf Kalla memperoleh 8 suara.

Terpilih menjadi Sekretaris MWA UI adalah Prof Yani dari FIK, mengalahkan Corina dari Fakultas Psikologi.

Prof Yani unggul dengan mengantongi 13 dari 21 suara yang diperebutkan.

Menurut Said Aqil, pekerjaan yang mendesak dilaksanakan oleh MWA UI terpilih adalah membentuk tim pemilihan rektor baru, yang sesuai aturan harus dilaksanakan Agustus mendatang.

"Itu yang dalam waktu dekat akan segera kami laksanakan. Dibentuk tim pemilihan rektor, termasuk aturan-aturan pemilihannya. Akan dibahas apakah sama atau berubah dari aturan sebelumnya," papar Said Aqil.

Buruh + pendidikan = Kebangkitan Nasional

Jakarta - Buruh itu adalah pahlawan, baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarga dan negaranya. Sehari saja buruh mogok, perekonomian bisa bangkrut.

Tidak ada alat produksi yang bekerja dan tidak ada layanan antar hubungan ekonomi, berarti dunia berhenti dalam satu hari.

Buruh itu vital bagi pergerakan ekonomi. Pergerakan ekonomi vital bagi kehidupan masyarakat dalam bersosialisasi dan menjalani hidup.

Satu negeri disebut mati kalau tidak ada pergerakan ekonomi. Ketika ini terjadi, berbondong-bondonglah warga bermigrasi ke tempat lain yang ekonominya berputar.

Mengapa semua orang Indonesia ingin ke Jakarta? Karena di Jakarta ekonomi bergerak cepat

Pergerakan itu dimotori para buruh yang tanpa lelah memproduksi segala barang dan jasa yang dibutuhkan warga Jakarta. Hal sama juga terjadi pada sentra-sentra ekonomi lain di setiap kota dan kabupaten.

Maka, sangatlah bijak kalau kita menaruh respek pada buruh. Mereka memiliki hari besar di setiap tanggal 1 Mei.

Tidak adil rasanya kalau tidak meliburkan mereka pada hari yang spesial itu. Saya melakukannya di daerah saya, Kutai Timur. Tanggal 1 Mei, semua buruh di Kutai Timur libur.

Sebagai tanda terima kasih dan hormat, kami beri mereka hiburan di hari libur itu.

Fantastis

Setiap orang yang bekerja dan diupah dari pekerjaannya itu pada dasarnya adalah buruh. Yang bukan buruh adalah direksi karena mereka wakil atau perpanjangan tangan owner (pemilik perusahaan).

Namun buruh selalu diidentikkan dengan pekerja kasar dan berpendidikan rendah. Itu stempel umum buruh.

Ada strata gelar untuk sebutan, meskipun rancu tapi bisa dibedakan. Kalau buruh berarti pendidikan rendah, maka pekerja diartikan berpendidikan di atas buruh.

Di luar negeri, mereka di sebut TKI. Perannya tak tanggung-tanggung, sebagai pahlawan devisa.

Para TKI ini sedikitnya menyumbang devisa 4,37 miliar dolar AS atau Rp39,3 triliun per tahun (data tahun 2011) ke kas negara.

Jumlah yang fantastis. Hebatnya jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

Mei adalah bulan luar biasa. Pada 1 Mei kita merayakan Hari Buruh, lalu pada 2 Mei kita rayakan Hari Pendidikan. Kemudian 20 Mei kita rayakan Hari Kebangkitan Nasional.

Tiga hari besar di bulan Mei yang sangat bermakna.

Senjata

Buruh sebagai simbol dinamika pergerakan ekonomi. Maknanya luar biasa, mereka bisa menentukan ekonomi bergerak atau tidak.

Negeri ini akan semakin produktif kalau buruh sejahtera. Di Indonesia, porsi upah buruh dibanding biaya produksi masih berkisar 20:80 (%). Sangat kecil bila dibanding rata-rata upah buruh dunia terhadap produksi berkisar 35 - 40 %.

Untuk mencapai angka sebesar itu membutuhkan banyak faktor, bukan semata melalui tekanan seperti demonstrasi.

Tentu untuk meningkatkan porsi upah buruh, kualitas buruh sendiri harus diperbaiki. Di sinilah butuh peran pendidikan.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Seharusnya buruh yang ingin menempuh pendidikan diberi peluang dan kemudahan, karena pada dasarnya pilihan menjadi buruh disebabkan terbatasnya pendidikan yang dimiliki.

Di tanah air ada 46 juta buruh. Kalau 10 persennya saja berminat menyelesaikan pendidikan lebih tinggi sembari bekerja, itu artinya 4,6 juta jiwa buruh memiliki pendidikan lebih tinggi. Ini juga berarti
kualitas pendidikan yang dimiliki buruh meningkat.

Akan ada perubahan intelektual yang masif. Kemudian akan terjadi perubahan nasib karena mereka menjadi berpendidikan lebih baik.

Saya yakin makna hari pendidikan yang kita rayakan akan jauh lebih berarti.

Akibat sentuhan pendidikan itu mahadahsyat. Pendidikan itu indikator sekaligus simbol kecerdasan. Pendidikan juga layaknya senjata serba guna.

Spesial

Bagaimana kalau senjata itu kita berikan kepada buruh, kaum yang terhenti pendidikannya karena ketiadaan biaya.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, kita bisa saksikan perubahannya.

Kemudian, baru kita akan memperoleh makna selanjutnya, yakni Kebangkitan Nasional.

Dulu, kebangkitan nasional berangkat dari semangat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan serta nasionalisme yang ditularkan para pendiri bangsa seperti Boedi Oetomo, Ir. Soekarno, Dr. Ciptomangunkusumo, Dr.
Dowes Dekker, Ki Hajar Dewantoro, dan lain-lain.

Untuk memelihara semangat itu, sekali lagi peran pendidikan sebagai jembatan penghantar jauh lebih efektif.

Pendidikan sifatnya rutin, tidak seremonial. Berperan merangkai logika-logika berpikir positif dalammemahami beragam fenomena kehidupan. Tersimpan lama dalam memori otak manusia.

Begitu spesialnya bulan ini dengan tiga hari besar yang penuh makna, makanya saya terpanggil untuk memberikan komentar.

Tiga hari besar itu terangkai satu sama lain. Kalau disatukan dapat menjadi buruh cerdas karena pendidikan memberi semangat kebangkitan nasional yang semakin baik untuk nusa dan bangsa.

Mungkin ini kebetulan, tetapi benar adanya.

Selamat Hari Buruh. Selamat Hari Pendidikan. Kita songsong Hari Kebangkitan Nasional.

Warga Jakarta Sudah Melek Pendidikan

Jakarta - Sebagian besar warga di Jakarta sudah melek pendidikan yang dapat terlihat dari partisipasi rata usia didik di Jakarta menunjukkan angka yang tinggi.

Untuk usia SD partisispasi aktif mencapai 100 persen, SMP 100 persen, serta SMA/SMK mencapai 95 persen.

"Itu refleksi dan cerminan orang Jakarta memahami pendidikan sangat tinggi," ujar Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo saat menggelar acara silaturahmi ulama dengan umaro di Balaikota, Kamis (10/5).

Ia mengatakan, keberhasilan pembangunan pendidikan di Jakarta saat ini menunjukkan hasil menggembirakan dengan tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) 2011, untuk tingkat SD mencapai 100 persen, SMP 99 persen, SMA 99,5 persen dan SMK 99,8 persen.

"Ukuran dunia (pendidikan) tidak ada masalah di Jakarta. Tetapi yang kita cari dunia akhirat, ini yang perlu saya dapat masukan dari alim ulama. Sehingga pembangunan di Jakarta bisa berimbang dalam hal spriritual," ujarnya.

Pasalnya, menurut Fauzi, selain membutuhkan generasi yang pintar, dibutuhkan juga lulusan yang jujur dan bertakwa sehingga dapat menciptakan pemimpin yang anti korupsi.

Pemprov DKI Jakarta sejauh ini menggandeng alim ulama untuk tetap memberikan pendidikan dalam bidang kerohanian kepada siswa yang ada di Jakarta.

"Kita tingkatkan pendidikan agama, baik dalam lingkup rumah tangga maupun masyarakat guna terciptanya generasi yang bermartabat dan sejahtera," jelasnya.

Pendidikan, Cipta Generasi Emas Bangsa

Di Indonesia, Hardiknas setiap tahunnya diperingati setiap 2 Mei. Tanggal ini kita peringati untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara yang kita kenal sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia, yang memperjuangkan hak bangsa Indonesia.

Beliau seorang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi orang Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia mendirikan Perguruan Taman Siswa, pendidikan untuk orang biasa. Mengingat jasa yang cukup signifikan terutama dalam pendidikan, Presiden Soekarno, 28 November 1959 menganugerahi gelar pahlawan nasional dan tanggal lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Bercermin dari sejarah Bapak Pendidikan di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dan melihat apa yang telah dilakukan beliau dalam merintis dan membentuk anak-anak bangsa yang cerdas, dan harapannya akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa. Wajib kita hargai dengan cara terus mengembangkan pendidikan di negara ini, agar menghasilkan generasi emas bagi bangsa ini dan menciptakan suatu pendidikan yang benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan selama ini dirancang dengan mengedepankan proses perkembangan kognitif yang melibatkan otak rasional, sangat jarang bahkan mungkin langka melibatkan otak emosional yang dominan pada belahan otak kanan. Akibatnya, hasil pendidikan di Indonesia melahirkan lulusan yang pintar, tetapi kurang cerdas.

Anak-anak ibarat bunga beraneka warna di taman yang indah, mereka akan tumbuh dan merekah dengan keelokannya masing-masing. Kita sebagai guru, sebagai orang tua, bangunlah potensi-potensi mereka agar mereka tumbuh mekar dengan sempurna.

Bercermin pada masalah di atas, pendidikan sekarang harus benar-benar dirancang untuk menciptakan anak bangsa yang cerdas, sehingga pendidikan menjadi ujung tombak terciptanya generasi emas bangsa, sesuai dengan apa yang dikatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan fokus mencetak generasi emas. Wacana itu sekaligus menjadi tema pada peringatan Hardiknas tahun ini. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menjelaskan, dijadikannya kebangkitan generasi emas sebagai tema peringatan Hardiknas tahun ini bukan tanpa alasan.

Pasalnya, sejak 2010 sampai 2035 merupakan saat Indonesia mendapatkan bonus demografi, yakni populasi usia produktif paling besar sepanjang sejarah Indonesia berdiri. “Itulah mengapa kita fokus pada kebangkitan generasi emas, karena ini pertama kalinya, dan harus kita manfaatkan,” kata Nuh, sesaat setelah memperingati Hardiknas di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (2/5).

Pada periode tersebut Indonesia harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia sekaligus sebagai upaya menyambut 100 tahun Indonesia merdeka, pada 2045 mendatang. Selain melalui Gerakan Paudnisasi, kata Nuh, Kemdikbud juga akan mendorong perluasan akses pendidikan di semua jenjang untuk membangkitkan generasi emas tersebut. Karena menurutnya, kualitas pendidikan yang baik dan merata merupakan kunci sukses membangkitkan generasi emas. “Kita juga akan memperluas akses pendidikan mulai dari PAUD sampai pendidikan tinggi yang diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan,” tegasnya.

Mengutip dari apa yang dikatakan Bapak Pendidikan Indonesia, pendidikan dan pengajaran menurut Ki Hadjar Dewantara, harus mengena pada rakyat secara luas dan tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari penghidupan rakyat senyatanya. Untuk itu, pendidikan nasional mesti diselenggarakan selaras dengan kodrat bangsa. Hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan dan kedamaian dalam kehidupan bersama dapat diwujudkan.

Kini setelah 80-an tahun berlalu, kekecewaan Ki Hadjar Dewantara tidaklah sirna, malah menjalari batin bangsa. Pendidikan dan pengajaran, meskipun dilaksanakan oleh pemerintah kita sendiri, ternyata tidak mampu memperbaiki nasib dan martabat bangsa. Jika ini dikatakan tidak mampu memperbaiki nasib dan martabat bangsa, pertanyaannya bagaimana kita bisa menciptakan generasi emas bagi bangsa ini, yang menentukan nasib bangsa ini ke depannya.

Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dihadapkan kepada banyak sekali masalah. Satu di antaranya yaitu masalah dunia pendidikan yang ada saat ini walaupun kelihatannya berjalan dengan lancar sampai sekarang, tetapi sesungguhnya Indonesia masih membutuhkan penyelenggaraan pendidikan yang mengarah pada kemandirian bangsa yang akan membentuk generasi emas bangsa.

Jika kita bicara dunia pendidikan di Indonesia tentunya tidak akan habis-habisnya, dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, pertanyaannya apakah itu sudah terjadi?

Satu di antaranya yaitu masalah RSBI atau SBI yang sekarang ini menjadi topik yang sedang diperbincangkan, di mana RSBI dikatakan merenggut jati diri bangsa, misalnya penggunaan bahasa pengantar di SBI yang mendegradasikan bahasa Indonesia, artinya bahasa pengantar menggunakan bahasa asing. Seharusnya kita tetap mempertahankan budaya lokal. SBI sebenarnya bagus juga untuk generasi emas bangsa, menciptakan anak bangsa yang cerdas dan dapat bersaing secara internasional, tetapi tidak harus menghilangkan harga diri bangsa ini.

Penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar mata pelajaran di RSBI, kecuali pelajaran bahasa Indonesia, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan sejarah, dan muatan lokal, juga menjadi masalah. Hal ini bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda 1928 yang berikrar bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Penyelenggaraan RSBI juga telah melanggar hak konstitusi warga negara dalam pemenuhan kewajiban mengikuti pendidikan dasar. Melalui RSBI, pendidikan yang sejatinya merupakan prasyarat bagi penikmatan hak asasi manusia ternyata dirancang hanya untuk sebagian kecil rakyat Indonesia, bukan seluruh rakyat.

Peringatan Hardiknas 2 Mei jangan hanya sebatas seremonial. Anggota Komisi X DPR Raihan Iskandar secara tegas mengimbau agar peringatan Hardiknas betul-betul dijadikan momentum kebangkitan pendidikan nasional dan bukan sekadar seremonial tanpa realisasi yang jelas. “Peringatan Hardiknas jangan sekadar perayaan yang bersifat seremonial dan hanya dihiasi oleh upacara semata,” kata Raihan, Rabu (2/5).

Seperti diberitakan, peringatan Hardiknas tahun ini dihiasi oleh pidato Mendikbud Mohammad Nuh, yang berkomitmen melakukan investasi besar-besaran di bidang sumber daya manusia (SDM). Mendikbud berjanji akan membuka akses seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan, mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi, membangun dan merehabilitasi sekolah dan ruang kelas baru secara besar-besaran, serta berjanji untuk menyiapkan pendidikan menengah universal mulai 2013.

Seharusnya, pidato dan komitmen Mendikbud itu dapat benar-benar diwujudkan. Saat ini masih banyak anak bangsa yang belum menikmati akses luas untuk masuk ke dunia pendidikan. Masih sedikit anak bangsa yang menikmati pendidikan bermutu. Ironisnya, keterbatasan akses itu justru dihambat oleh kebijakan pemerintah yang menciptakan sekat sosial melalui stratifikasi sekolah, misalnya sekolah RSBI dan non-RSBI.

Selanjutnya, masih banyak juga anak bangsa yang tidak bisa menikmati bangku kuliah di perguruan tinggi. Raihan mengungkapkan, semakin mahalnya biaya kuliah saat ini kian menutup peluang masyarakat tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Ia juga mengkritisi sarana dan prasarana pendidikan, karena potret di lapangan menunjukkan masih banyaknya sekolah dengan kondisi bangunan tidak layak.

Jika pemerintah benar-benar ingin menciptakan generasi emas bangsa ini, kondisi ini harus benar-benar dijawab oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan kebijakan-kebijakan nyata. Jangan sampai, peringatan Hardiknas hanya bersifat rutinitas dan menjadi ajang pencitraan bersifat politis.

Waduh, UN di Ponorogo Dikawal Polisi

Ponorogo: Untuk mengantisipasi adanya kecurangan dalam Ujian Nasional di tingkat SMA dan sederajat di Ponorogo, Jawa Timur, panitia melibatkan jajaran kepolisian setempat. Bahkan, Kapolres Ponorogo AKBP Yuda Gustawan langsung memeriksa semua sekolah yang ada, Senin (16/4).

Kapolres Ponorogo AKBP Yuda Gustawan melakukan pemeriksaan di antaranya di SMA Negeri 1 Ponorogo yang memiliki jumlah siswa terbanyak. Kapolres memastikan pada pagi ini soal UN sudah berada di setiap sekolah.

Aparat kepolisian akan megawal ketat untuk menghindari adanya kecurangan selama proses UN berlangsung. Kapolres juga memeriksa ruangan ujian untuk mengantisipasi adanya lembaran jawaban di dalam kelas. Ia mengimbau agar para peserta ujian tidak membuat kecurangan dalam menjawab soal ujian.

Sebanyak 9.500 peserta UN di Ponorogo hari ini siap mengikuti UN

Hari Kedua UN di Ponorogo Diwarnai Aksi Menyontek

Ponorogo: Pelaksanaan Ujian Nasional hari kedua di Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (17/4) hari ini, diwarnai aksi menyontek. Aksi siswa menyontek itu tertangkap kamera Metro TV. Ironisnya pengawas seakan tak melihat aksi nakal para peserta.

Pemantauan Metro TV, para siswa rata-rata membawa catatan berupa kertas kecil yang sudah mereka siapkan dari rumah. Namun pengawas tidak melakukan tindakan apapun terhadap para siswa yang diduga menyontek itu.

Di bagian lain, Kepolisian Resor Ponorogo mengaku belum medapatkan data adanya kecurangan. Sebaliknya polisi juga mengimbau para siswa untuk tidak terprovokasi terkait adanya peredaran kunci jawaban soal UN.(DSY)

 
Copyright © 2011. kecamatan mlarak - All Rights Reserved